Juventus, AC Milan dan Inter Milan Sebuah Rivalitas Tanpa Batas

Advertisement
FASTER86.COM Geliat Serie A memang sangat indah jika kita ikuti, mulai dari persaingan, pintrik di dalam lapangan dan luar lapangan, serta perang transfer beberapa klub Serie A membuat Liga Italia menarik untuk kita ikuti. Saat kita flashback ke Serie A era 90an, maka hanya ada tiga klub yang layak kita kedepankan, Juventus, Milan dan Inter.

Memang untuk era 90an sampai 2000an, hanya Juventus dan Milan yang saling berbagi gelar scudetto, selebihnya Inter hanya sebagai penggembira persaingan semata. Hal ini tak berlebihan, mengingat saat itu, Juventus dan Milan adalah tim yang paling sering meraih gelar scudeto.


Pada dekade 90an sampai 2000, Milan memang menjadi tim yang paling banyak meraih scudetto, dengan 5 gelar, Juventus dengan 3 gelar, serta Sampdoria dan Lazio dengan 1 gelar. Sungguh ironi saat itu, dimana Intermilan hanya menjadi pelampiasan bagi Milan dan Juventus.

Ada kisah yang menarik dari ketiga klub tersebut, dimana Rivalitas menjadi hal yang paling indah serta paling mengangkan saat kita bahas. 


Juventus di dekade 90an ini adalah awal dari resolusi Agnelli senior dalam mengembalikan Juventus yang lebih modern, lebih maju serta lebih memiliki "taste" Italia. Jadi tak heran, Gianni Agnelli membangun Juventus untuk ke depanya mampu diteruskan oleh penerusnya.


Di kubu AC Milan, Berlusconi pun tak macam macam membangun AC Milan, dengan dana yang berlimpah, serta dia berada di pemerintahan membuat AC Milan tak kesulitan dalam mendatangkan para bintang kelas dunia.


Inter Milan pun demikian, dengan Moratti sebagai pebisnis terbaik Italia saat itu, dengan usaha minyaknya mampu membuat Inter menjadi kekutan Serie A.

Tiga tokoh di belaknag kekokohan tim papan atas Italia ini menunjukkan bagaimana megahnya Serie A saat itu, dan hal yang menarik diantara ketiga tokoh tersebut adalah, tim mereka tak bolah kalah satu sama lain, dalam bahas awam boleh kalah sama tim lain asal jangan dengan mereka ( Juventus, Milan dan Inter -red )

1. Para Bintang ketiga Tim


Deretan bintang pun saling menghiasi ketiga tim tersebut, Milan dengan Baresi, Donadoni, Maldini, Weah, Baggio hingga Bierhoff pun pernah merasakan gregetnya seragam hitam merah AC Milan. Selain itu, masih banyak bintang muda yang tak kalah menawan, semisal Albertini, Costacurta, Sebastiano Rossi mengisi daftar pemain AC Milan saat itu. 


Juventus pun tak kalah greget dengan Milan, Juventus dengan Fiatnya mampu meyakinkan para pemain untuk bergabung dengan Juventus, sebut saja Baggio,Vialli, Ravanelli, Del Piero, Deschamps, Zidane. Selain itu, masih ada Vieri, Mooler, Boksic dan Zidane. Sungguh sebuah tim yang kuat dalam hal pendanaan. 


Intermilan pun tak kalah, mereka mendatangkan Pagliuca, Bergomi, Zanetti, Zamorano, dan si fenomenal Ronaldo. Selain itu masih ada Youri Djorkaeff dan Simeone, yang saat itu adalah pemain tengah yang memiliki visi bermain yang bagus.

Lalu apa yang membuat Milan dan Juventus mampu merebut gelar Serie A, sedangkan Inter Milan tidak ? Tak lain dan tak bukan, karena faktor mental para pemain Juventus dan Milan lebih baik ketimbang Inter, selain itu Inter kadang melempem di akhir musim.

Sungguh Ironi yang luar biasa bagi Interisti saat itu, dimana miliaran lira telah digelontorkan oleh Moratti, namun apa pasal, Moratti tak mampu membawa Inter menjadi campion Serie A dekade 90an.

2. Laga Seru ketiga tim
Partai seru selalu menjadi hal yang biasa jika ketiga tim tersebut saling betemu, Deby Della Madonina antara Ac dan Inter milan menjadi laga yang paling ditunggu, tak lain dan tak bukan karena kedua klub yang memiliki basecamp yang sama yaitu stadion Sansiro atau Guiseppe Meazza. Ketika Derby, stadion berkapasitas 80 ribu penonton akan penuh dengan fans kedua tim.

Grande partita lainya, antara Juventus vs Milan atau Juventus vs Inter juga membuat jantung berdetak begitu kencang, aroma persaingan Liga yang sesungguhnya. Bahkan sebelum laga antara kedua tim, kerap terjadi perang urat syaraf yang mempu membuat fans ikut terbakar semangatnya.

Friksi friksi lain adalah perseteruan di lapangan, Juventus seolah dikerubut oleh duo Milan, hal ini membuat Liga makin menarik. Milan yang merupakan kota mode sedangkan Turin kota Industri berebut pasar dalam hal bisnis. 

3. Perang  pelatih bertangan dingin
Hal lain yang membuat serunya Serie A saat itu adalah persaingan para pelatih top Serie A, Juventus dengan Lippi, Milan dengan Sacchi dan Inter dengan Gigi Simoni. Tiga pelatih yang kerap membuat persaingan makin seru dengan pernyataan pernyataan yang membuat kuping jadi panas.

Nah apakah musim ini kita bisa menyaksikan partai seru dari ketiga tim tersebut ? Jika kita melihat dari klasemen saat ini, mungkin hanya AC Milan yang menjadi pengganjal langkah Juventus untuk melanjutkan kisah scudetto.

Tag : SEPAK BOLA
Back To Top