Cerita Berbeda Antara Nedved, Totti dan Paolo Maldini

Advertisement
FASTER86.COM Liga Italia adalah salah satu liga terbaik di dunia, dimana hampir setiap pagelaran Serie A selalu memunculkan kisah dan cerita yang membuat haru setiap penggemarnya. Ada banyak kisah dan cerita di Serie A, mulai dari cara " licik " dalam menyingkirkan Juventus, hingga cerita pemain termahal semua ada di Italia.

Ketika kita memasuki dekade millenium, industri sepakbola Italia sangat maju pesat, banyak investor datang dan memberikan modal demi majunya sepakbola Italia. Al hasil, Liga yang bagus membuat Italia mampu menjadi juara dunia.

Selain kisah tentang kehebatan Liga, ada juga mengenai tiga bintang top Serie A, Pavel Nedved, Francesco Totti dan Paolo Maldini. Tiga bintang tersebut hampir selalu menghiasi headline di tiap minggunya. Mereka adalah para bintang level atas dengan segudang prestasi.

Namun dari ketiga bintang tersebut, hanya Pavel Nedved yang mendapatkan tempat terhormat di akhir kariernya. Why ada apa dengan AS Roma dan AC Milan ? Mari kita telisik hal yang mebedakan tiga sosok ini ketika memasuki masa tuanya.

1. Pavel Nedved


Pavel Nedved, salah satu gelandang terbaik di dunia ini adalah mantan pemain yang setia bersama Juventus, bagi dia Juventus adalah segalanya. Ketika memasuki usia tua, dia tetap menunjukkan kemampuan terbaiknya, dia memberikan segalanya untuk Juventus.

Bak gayung bersambut, Juventus pun menghargai jasa jasa mantan kapten Timnas Ceko tersebut dengan sebuah partai perpisahan yang sangat manis. Setelah pensiun, Juventus pun tak menyiakan bakatnya. 

Penghormatan pun diberikan Juventus dengan menjadikanya sebagai salah satu staff di Juventus di bagian pemandu bakat. Kesempatan ini tak disia siakan oleh Pavel Nedved, kerja kerasnya mampu membuat Juventus makin baik dalam pembinaan pemain muda.

Karena prestasi inilah, Juventus menaikkan tingkatnya menjadi wakil presiden klub. Nedved pun sungguh bersyukur, ada klub yang sangat respon dengan para pemainya. " Sungguh Juventus adalah tim yang berbeda, mereka memperlakukan para mantan pemainya di berbagai tempat, dan itu bentuk penghargaan pada pemain "

" Saat saya ditawari jabatan sebagai salah satu direktur, saya sedikit kaget, apa saya bisa, ternyata berkat dukungan dari Marotta, Patrici dan terlebih Agnelli, saya bisa mengemban tugas tersebut. Sungguh itu adalah pegalaman yang luar biasa saya sebagai mantan pemain Juventus "

" Juventus begitu respect dengan para bintangnya " tambah wakil presiden Juventus tersebut.

Selain kepada Nedved, Juventus juga memberikan tempat spesial kepada salah satu legendanya, Alessandro Del Piero. memang saat ini King Alex belum bersedia, dia masih ingin mencari sensasi lain. 

2. Francesco Totti


Jika anda pecinta Serie A, mesti nama ini tak asing di telinga anda, Francesco Totti, bintang terbaik AS Roma ini adalah salah satu legenda hidup klub. Namun apa yang dialaminya sungguh sangat ironi. Dimana di saat akhir masa kariernya, ia mendapatkan perlakuan krang baik dari pelatih, dan klub seolah mendiamkanya.

Perselisihan antara Spaletti dan Totti ini sempat mencuatkan kabar kalau Totti ingin pensiun dan mengkahiri musim di Roma. Desakan pun banyak bermunculan, mulai dari internal Roma hingga dari luar Roma pun mendesak agar Spaletti mengjormati Totti.

Salah satunya adalah dari sahabat Totti, Alessandro Del Piero, kala itu Del Piero mendesak manajeman Roma agar mau menghormati jasa jasa Totti.

" Sungguh sebuah ironi, bintang besar yang diperlakukan kurang baik di akhir kariernya, saat itu aku langsung telepon Francesco, dan memberi dukungan moril untuknya. Saya sangat paham apa yang dialami seorang pemain, dan Francesco tak layak menerima perlakuan seperti itu " ujar Del Piero.

Seiring desakan para fans, internal dan para sahabat Totti, akhirnya dia bisa bermain kembali dan memberikan yang terbaik di akhir musim.

3. Paolo Maldini


Cerita tentang kehebatan, keloyalan serta kepemimpinan Poalo tak selesai kita bahas dalam sehari, Anak dari Cesare Maldini ini adalah salah satu bek terbaik dunia. Banyak prestasi yang telah dilahirkan dari pemiliki abadi no 3 Milan ini, mulai dari gelar perseorangan hingga bersama klub.

Namun seakan berkebalikan, ketika memasuki masa pensiun, dia tidak mendapatkan kesempatan mengabdi di salah satu staff. Apa pemicu hal tersebut ? Seorang bintang besar tak mendapatkan kedudukan di klub yang ia besarkan ?

Setelah ditelisik ternyata sosok Galliani yang tak menginginkan Maldini mengisi salah satu staff di Milan. Entah ada ape dengan Galliani, namun fakta membuktikan kegagalan Maldini mengisi salah satu saff di Milan karena orang ini.

Memang banyak desakan agar Milan merekrut Maldini menjadi salah satu staff atau jajaran direksi, namun pria botak ini tak bergeming dan tetap pada pendirianya. 

Nah perlakukan tiga bintang ini mungkin bisa menjadi indikasi, mana klub yang sangat menghargai para pemainya dan mana klub yang hanya mengeksploitasi para pemainya tanpa memikirkan masa depan sang pemain setelah pensiun.

Tag : SEPAK BOLA
Back To Top