Akhir Yang Manis Dari Marko Pjaca

Advertisement
FASTER86.COM Marko Pjaca, nama yang asing bagi pecinta sepakbola, memang sebelum namanya melambung seperti sekarang, siapa sih yang kenal dengan pemuda tersebut. Sosok yang begitu hebat ini memang tak seperti Miralem Pjanic atau Dani Alves, yang memiliki nama besar. Tetapi berkat Juventus, namanya begitu dikenal dan di pencarian google menjadi tranding usai resmi dikontrak oleh Juventus.

Marko Pjaca, pemain yang berposisi sebagai winger ini begitu menyedot perhatian Juventus kala Piala Eropa, dimana pemain ini bermain untk Timnas Kroasia. Nama Pjaca masuk ke radar Juventus karena pemain sayap Juventus sebelumnya, Juan Cuadrado kembali ke sang pemilik, Chelsea.


Demi memperkuat barisan sayapnya, Juventus pun berburu pemain yang memiliki kemampuan sepadan dengan Cuadrado. Dan sang direktur umum Juventus, Beppe Marotta pun akhirnya memilih Marko Pjaca.

Perburuan dengan perjuanag, itu adalah ungkapan bagaimana berbelitnya dalam mendatangkan pemain ini. Saat sebelum Juve menkasir pemain ini, bahkan tak ada yang menawar, tetapi begitu Juve menginginkan pemain ini, banyak klub berburu tanda tangan pemain ini. Milan menjadi salah satunya, bahkan Milan sudah memproyeksikan pemain ini menjadi anak didik Montella.

Namun berkat kejelian dari Marotta dan Patrici, akhirnya drama pun berakhir di J Stadium dengan akhir yang manis. Pjaca resmi bergabung dengan Juventus dengan banderol 23 juta euro dan itupun dengan dua kali bayar. Sungguh nego yang luar biasa dari seorang Beppe Marotta, tajam tapi pasti.

Pjaca akan mengikuti jejak senegaranya, Mario Mandzukic, dan dia juga mengikuti jejak terdahulunya seperti Igor Tudor. Jejak pemain Kroasia di Juventus terbilang manis, dan Pjaca juga tentu ingin seperti para pendahulunya.

Pjaca resmi diperkenalkan Juventus dengan no punggung 20 milik mantan pemain kesayangan Juventini, Simone Padoin. 

Di Juventus sendiri, Pjaca akan menerima gaji 2 juta euro per musim, dan dia akan mengisi posisi yang ditinggalkan Cadrado.

Pjaca memiliki kemampuan dalam menyisir sisi kanan atau kiri lapangan, kemampuan dribel, lari serta akurasi umpanya jangan diragukan lagi. Dalam euro 2016 kemarin, rata rata dribelnya hanya kalah dengan hazard dan Bale dengan rata rata 3,3 persen per game.

Pjaca sendiri pada musim lalu bermain sangat apik di dinamo zagreb, dengan 42 kali bermain dan mencetak 12 gol dan 6 assist. Penampilan yang memukau ini diharapkan bisa membuat Juventus menjadi yang terbaik di Serie A terlebih dengan obsesi Agnelli yang menginginkan juara Champions.

Kita tunggu saja kiprah dari pemuda 21 tahun tersebut dengan balutan seragam no 20 hitam putih si nyonya tua Juventus. Tentu dengan penampilan yang terbaiklah yang bisa menilai apakah Pjaca mampu menjadi pemain muda yang memiliki segalanya.

Tag : Attacante
Back To Top