Sejarah Perjuangan Nenek Moyang Jawa Di Suriname

Advertisement

Sejarah Perjuangan Nenek Moyang Jawa Di Suriname

Nama Suriname pasti tak asing ditelinga anda. Kalau masih asing, kau carilah di Google. Zaman penjajahan Belanda dulu banyak penduduk jawa yang diangkut ke Suriname untuk bekerja paksa. Cerita ini adalah kisah perjalanan hidup seorang wanita jawa di negri benua Amerika Selatan tersbut.



"Sesudah tiga tahun hidup berumahtangga saya pergi meninggalkan suami saya karena tidak tahan lagi. Tetapi saya tidak pergi begi-tu saja, lo. Pada hari itu saya membereskan rumah dan menyediakan segala kebutuhan suami saya seperti biasanya. Sesudah itu saya menyembah suami saya untuk mengatakan bahwa saya akan meninggalkannya dan jika dalam waktu enam hari saya tidak kembali, maka dia tidak usah repot2 mencari saya. Tanpa pamit kepada keluarga atau tetangga, saya pergi dari rumah dengan membawa beberapa pakaian dan barang yang perlu saja."



Demikianlah dimulainya kisah perantauan nenek Juariah pada awal abad ini. Rupanya nenek Juariah harus berpisah selamanya dari kampung halamannya Karangsari di Banyumas itu sebab nasib membawanya ke negeri seberang dan sampai usianya yang 85 tahun sekarang ini baru satu kali dia berkesempatan untuk menengok kampung asalnya tersebut. Dari Jawa nenek Juariah pindah ke Suriname (negara di sebelah utara Amerika Selatan) dan setelah lebih dari setengah abad tinggal di Suriname, dia pindah lagi dan menetap di negeri Belanda bersama anak dan cucu2nya sejak tahun 1975. Keluarga Sawigeno (kiri) bersama teman di Suriname


Kerukunan dan rasa persaudaraan orang Jawa diperkuat melalui pelaksanaan acara selamatan dan tradisi Jawa lainnya, seperti misalnya sunatan, mitoni (hamil tujuh bulan), upacara perkawinan Jawa, peringatan hari kesekian setelah meninggalnya seseorang. Pemahaman makna dan pelaksanaan upacara adat dan tradisi tersebut diubah dan disesuaikan dengan pemahaman para penganut budaya itu sendiri, sehingga tidak sama dengan yang biasa dilaksanakan di Jawa. Misalnya kematian seseorang juga diperingati sesudah satu dan dua tahun dan sesudah lewat satu windu. Juga ada perbedaan antara adat kebiasaan Islam dan tradisi kejawen. Contoh lain dari perbedaan tafsiran adalah arah kiblat. Karena di Jawa orang Islam mengambil arah kiblat ke Barat, maka setibanya di Suriname pun mereka mendirikan mesjid dengan arah kiblat ke Barat. Namun kemudian datang kelompok baru yang berpendapat bahwa di Suriname arah kiblatnya ke Timur. Mereka pun mendirikan mesjid dengan arah yang berlawanan. Maka sampai sekarang masih terdapat dua macam arah mesjid. Pengikutnya pun dibedakan antara penganut aliran Barat yang lebih mempraktekkan Islam kejawen dan aliran Timur yang lebih Islam murni.


MODAL TEKAD


Pada waktu meninggalkan kampungnya nenek Juariah baru berumur kira2 16 tahun (dia menikah pertama kalinya pada usia 13 tahun). Keputusan untuk meninggalkan suami dan pergi dari tempat kelahirannya ini mencerminkan sikap emansipasi karena wanita ini berani memutuskan sendiri nasib hidupnya. Apalagi jika diingat bahwa wanita itu masih muda belia dan lingkungan budaya Jawa pada saat itu sangat mengekang kebebasan wanita. Padahal pada jaman sekarang, justru pada jamannya emansipasi wanita, gadis2 yang seusia itu biasanya masih manja dan sangat tergantung kepada ibu/orang tuanya. Nenek Juariah menunjukkan sikap dewasa yang ditandai dengan keuletan, ketabahan dan rasa tanggung jawab, seperti dapat kita lihat dalam kisahnya berikut ini.



Tidak lama setelah meninggalkan kampung halamannya nenek Juariah berjumpa dengan seorang laki2 bernama Sawigeno, yang kemudian menjadi suaminya seumur hidup. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke Suriname (yang pada waktu itu juga negara jajahan Belan-da) guna mengadu nasib. Ketika itu memang pemerintah kolonial di Suriname mengimpor tenaga kerja dari pulau Jawa untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja untuk perkebunan. Pengerahan tenaga kerja ini berlangsung sejak tahun 1890 sampai dengan tahun 1939. Buruh laki2 dan perempuan yang pergi ke Suriname mendapat kontrak untuk lima tahun.



Perantauan itu tidaklah sekedar berarti meninggalkan pulau Jawa dan cara hidup/budayanya saja, melainkan juga memulai hidup baru di tempat yang sama sekali asing baginya. Pada waktu itu sedikit sekali informasi yang dapat diperoleh orang Indonesia tentang negara2 lain, apalagi tentang Suriname yang amat jauh itu. Jadi pergi merantau ke tempat yang asing itu merupakan hal yang mena-kutkan, apalagi perjalanan itu harus ditempuh ber-hari2 bahkan ber-minggu2 dengan kapal api, melalui samudra yang luas. Perantauan ini sama sekali bukanlah kisah yang romantis, seperti yang dibayangkan oleh banyak wanita muda masa kini yang ingin pindah ke luar negeri setelah menikah. Perlakuan terhadap para buruh itu sering kali kasar dan orang sering dibujuk dan ditipu agar mau pergi ke negara yang tidak dikenal tersebut. Perjalanan yang pan-jang sekali dari Jawa ke Suriname itu mengakibatkan banyak orang sakit dan bahkan banyak yang meninggal dunia dalam perjalanan.



HIDUP DI *PENGANGSI*



Hidup dan bekerja selama lima tahun di "penangsi" (perkebunan) sangatlah keras. Pekerjaan kakek Sawigeno adalah menanam dan merawat pohon2 kopi, menebang hutan dan menebang kayu sedangkan istrinya, seperti kebanyakan wanita2 yang dikontrak, memotong rumput dan alang2, membersihkan got2 di sekitar perumahan dan kebun. Pekerjaan yang berat dan berbahaya sebab di tempat itu banyak ularnya ! Perkebunan itu terletak kira2 20 kilometer dari Paramaribo (sekarang ibukota Suriname) di tengah rawa2 dan dike-lilingi hutan. Tidak ada jalan aspal. Di sana para buruh Jawa itu merasa sangat terpencil dan kesepian.



Bagaimanakah keadaan perumahan mereka ? Di perkebunan itu buruh2 dari Jawa (termasuk nenek Juariah dan suaminya) ditempatkan di suatu bangunan gudang. Bangunan ini di bagi menjadi beberapa kamar. "Pondok untuk pria dipisahkan dari pondok wanita; hanya suami-isterilah yang boleh tinggal bersama di satu kamar" kata nenek Juariah. Kamarnya kecil. Emper disebelah kamar dipakai untuk tempat masak. Kamar mandi dan wc ada dibelakang bangunan itu. Semua serba sangat sederhana. Suasananya sama sekali tidak ramah dan tidak enak.



Dalam keadaan seperti itulah, pada usia kira2 18 tahun, nenek Juariah melahirkan putrinya. Karena hubungan baik antara pasangan ini dengan mandur perkebunan maka nenek Juariah diizinkan untuk berhenti bekerja ketika anaknya lahir, sekalipun kontraknya belum berakhir. Malah dia diberi susu setiap hari dan satu kaleng beras setiap minggu. Itulah sebabnya putri tunggal ini dapat dibesarkan dengan sehat, sekalipun waktu itu belum ada program imunisasi, gizi, dsb. Wanita2 yang lain harus terus bekerja walaupun mempunyai bayi. Untuk membantu mereka, perusahaan perkebunan menyediakan tempat penitipan anak bagi para ibu selama waktu kerja. Nenek Juariah



Usai kontrak, seperti kebanyakan buruh dari Jawa, kakek Sa-wigeno sekeluarga memilih untuk menetap di Suriname, dan sebagaimana telah dijanjikan dalam kontrak, mereka diberi sebidang tanah di mana mereka dapat membangun rumah dan berkebun sendiri. Suami isteri ini membangun rumah ditolong oleh teman2 secara gotong royong. Rumah ini dianggap sangat modern untuk masa itu karena beratap seng dan mempunyai dinding rangkap dua. Mereka pun memi-liki sebuah sepeda, padahal jarang sekali keluarga Jawa yang pu-nya sepeda. Rupanya keluarga ini bersifat modern dan ingin maju dalam pekerjaannya. Kakek Sawigeno melakukan ber-macam2 pekerjaan sedangkan nenek Juariah berdagang di pasar (kacang, beras dan ha-sil kebun). Yang membeli dagangannya adalah penduduk dari suku lain. Kehidupan bebas ini memungkinkan mereka bergaul dengan orang2 dari suku lain dan mulai mempelajari bahasa lain yaitu bahasa Inggris-lokal. Keluarga nenek Juariah tidak terus menetap di sekitar perkebunan. Mereka pindah tempat beberapa kali dan yang terakhir tinggal di ibukota Paramaribo sebelum pindah ke Negeri Belanda.



JERIH PAYAH YANG TIDAK SIA-SIA



Kisah nenek Juariah berlanjut. Ibu Ponirah, anak tunggal nenek Juariah, menikah dengan orang Jawa yang juga lahir di Suriname. Pasangan ini melahirkan 6 putri dan 3 putra (satu telah meninggal waktu masih kecil) dan yang sulung dilahirkan sewaktu ibu Ponirah berumur 15 tahun sedangkan suaminya 20 tahun. Sekarang keluarga nenek Juariah yang berasal dari satu orang itu (dia anak tunggal) berkembang menjadi satu putri, 8 cucu, 14 buyut dan 2 canggah yang berumur 6 dan 2 tahun. Cucu2nya lahir di Suriname dan di Belanda. Satu cucu belum menikah sedangkan yang lain telah meni-kah/bertunangan dengan orang yang masih berdarah Jawa atau orang Suriname keturunan suku lain. Salah seorang menantu ibu Ponirah adalah orang Batak yang dibesarkan di Suriname. Kini semuanya menetap di


Belanda. Walaupun tidak semuanya tinggal di satu kota, rumah anggota2 keluarga itu tidaklah jauh dari rumah nenek Jua-riah dan ibu Ponirah. Mereka sering mengunjungi rumah nenek dan ibu mereka dan "setiap kali kami datang tentu ada makanan untuk kami" kata salah satu cucu perempuannya. "Kalau anak cucu datang, rumah kami penuh sekali" tambah ibu Ponirah. Memang rumah ibu Ponirah itu cukup besar bagi anak dan cucunya menginap disana. Dalam usianya yang lanjut ini nenek Juariah masih sehat. Setiap hari dia naik turun tangga ke kamarnya yang terletak di lantai atas. Dengan bangga putrinya mengatakan bahwa ibunya tidak me-makai kaca mata jika menjahit bahkan tanpa kacamata ibunya masih dapat memasukkan sendiri benang ke jarumnya.


Disayangkan bahwa sekarang ini keluarga nenek Juariah tidak lagi memiliki kontak dengan sanak saudara di Jawa. Hal ini dapat dimaklumi karena waktu meninggalkan kampung halamannya dia masih kecil, tidak dapat membaca/menulis sedangkan sistem telekomunikasi di masa itu masih belum maju. Mencari asal usul keluarga pun menjadi sulit sekali. Waktu mengunjungi tempat asalnya nenek Jua-riah hanya bertemu kemenakan perempuannya saja. "Apalagi desa saya sekarang sudah lain sekali daripada waktu saya tinggalkan dulu."



Bila kita kaji kisah hidup nenek Juariah ini terlihat betapa su-litnya kehidupan di rantau. Coba kita lihat anak2 kita sekarang. Mereka dapat dengan mudah mencapai apa yang diinginkan karena tersedia berbagai sarana yang serba lengkap dan modern. Sekolah ke luar negeri pun bukan masalah. Tetapi apakah memang anak2 dari kalangan mampu itu memperlihatkan prestasi yang lebih baik dari mereka yang tidak berada ? Biasanya malah sebaliknya. Kemudahan itu ternyata malah membuat anak2 muda menjadi manja, cepat putus asa dan kurang bertanggung jawab. Justru anak2 dari keluarga se-derhana dan kurang mampulah yang berhasil mencapai prestasi studi yang baik, padahal mereka harus membagi waktu dan tenaganya untuk belajar dan bekerja atau membantu orangtua. Hidup sulit itulah yang menggembleng daya tahan dan disiplin mereka sehingga jika mereka mendapat kesempatan (dana) untuk studi, mereka dapat mem-perlihatkan hasil yang lebih baik daripada rekan2 mereka dari kalangan keluarga mampu. Demikian pula dengan turunan nenek Juariah. Nenek Juariah yang tidak tahu baca-tulis itu boleh bang-ga bahwa cucu2nya dapat menempuh pendidikan yang tinggi dan men-dapat pekerjaan/jabatan yang baik dalam sektor modern. Tidak sia2-lah jerih payah suami-isteri Sawigeno ini pergi merantau begitu jauh untuk memperbaiki nasib hidupnya. Nenek Juariah dan Ibu Poniarah dengan putra2


Tag : TRADISI JAWA
Back To Top